Hari ini, ya hari dimana aku menulis artikel ini hari rabu tanggal 2 Oktober 2013. Setelah kemarin hari selasa, dimana hari itu aku merasa sangat Ammazing. Pikiranku di penuh dengan ide-ide dan harapan dimana aku bisa melihat secara pasti dan detail bagaimana aku akan sukses di masa depanku nantinya. Sehingga aku sangat bersemangat dan yakin bisa melakukan segala hal. Satu pekerjaan selesai, lanjut ke pekerjaan lainnya dengan ringan seperti air yang mengalir deras. Semua pekerjaan selesai bahkan sebelum dead line kecuali hanya beberapa saja.
Tapi hari ini, perasaanku berubah 180 derajat. Rasanya aku malas melakukan sesuatu, selalu saja ada hambatan hambatan kecil yang mencegah untuk bertindak.
Setiap aku berniat memperbaiki komputer pasti ada saja alasan untuk tidak melakukannnya. Satu alasan diselesaikan alasan lain bermunculan. Entah itu lapar, haus, bahkan setelah makan malah kekenyangan jadi malas karena susah bergerak akibat perih karena perut kepenuhan. Trus istirahat sejenak dulu. Karena boring nyalain tv, setelah itu tetangga main ke rumah bawa anaknya yang masih kecil dan lucu pengen gemesin rasanya, malah jadinya main sama dia, trus pengen browsing sampai tiba2 hari udah siang dan perut kembali lapar.
Makan lagi, minum, nonton tv. Sampai gak ada acara yang enak di tonton dan tiba2 aku sadar aku telah membuang waktu berjam jam hanya untuk mondar mandir tidak jelas. Akhirnya timbul perasaan bersalah sudah membuang buang-buang waktu begitu banyak sedangkan tugas semakin menumpuk dan semakin membebani pikiran. Tapi ketika mau melangkah untuk menyelesaikan tugas yang harus diselesaikan selalu berat perasaanku ini, selalu saja ada alasan. Terjadi perang sengit di dalam otak ku kuat-kuatan antara ingin bekerja dan berleha-leha. Rasanya seperti air yang di bendung yang sudah terkumpul banyak dan hampir membuat jebol bendungan.
Hingga akhirnya aku putuskan untuk berhenti dari semua kegiatan, STOP!! Aku buang semua pikiran entah yang positif atau negatif pokoknya semuanya aku buang jauh-jauh ke laut bahkan ke hongkong. Aku duduk aku ambil nafas dalam-dalam. Pikiranku hanya aku fokuskan ke pernafasan dan detak jantungku sampai semua pikiran terbuang tanpa sisa. Kemudian setelah itu aku ambil waktu di antara pernafasan untuk merilekskan badan dan pikiran. Setelah benar benar rileks baru aku buka kembali pintu pikiranku terhadap masukan masukan positif.
Barulah disitu aku menemukan sesuatu yang ternyata sepele telah membuat membuat otak ku ini berhenti bekerja.
Kemarin, setiap aku melihat foto impianku dimana aku ingin berada di dalamnya suatu saat nanti. Rasanya seperti melayang, menyenangkan sekali meski hanya membayangkannya dan membuatku bersemangat. Tapi hari ini, setiap aku kembali melihat foto yang sama perasaan ku justru hancur seperti trauma. Bukannya aku buang foto mengerikan itu, justru aku pandangi lagi, lagi dan lagi sambil kebingungan dan terheran-heran. Kok bisa? Ini apanya yang salah? Apa bedanya foto ini kemarin dengan sekarang?
Kembali lagi, ini karena pikiranku terlalu penuh oleh kegagalan. Hari kemarin aku menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan fantastis dan hanya menyisakan sedikit tugas kecil yang belum sempat diselesaikan. Tanpa aku sadari ternyata tugas kecil inilah yang masih tersisa di kepala dan membuat mimpiku semalam menjadi buruk dan bangun dengan perasaan serba salah. Tanpa aku sadari juga otakku sebelumnya telah melakukan suatu risetnya sendiri melakukan perhitungan dan berasusmsi bahwa jika pekerjaan kecil saja bisa molor, bagaimana dengan pekerjaan besar yang menanti di depanmu? Pasti akan lebih molor lagi sehinngga impianmu pasti akan tertunda sampai kamu akhirnya sudah tua dan impianmu itu tidak ada gunanya lagi.
Inilah masalahnya, aku ingin memiliki mobil rv atau biasa disebut motorhome(bus atau mobil yang biasanya berukuran besar dan didalamnya seperti rumah) dan berkeliling Australia, dimana harga satu unitnya bisa mencapai 2M. Kemudian harapanku ini di patahkan begitu saja melalui serangkaian kegagalan-kegagalan kecil. Sehingga membuat aku sakit hati ketika aku kembali memandangi foto-foto ini.
Ketika aku kembali memandangi foto itu hati kecilku berkata,"Wah sayang sekali, ternyata aku tidak bisa mencapainya" atau "ternyata aku belum tentu bisa mencapainya padahal aku sangat menginginkannya". Lihat paragraf pertama tulisan ini dimana aku begitu yakinnya akan semua hal, tiba tiba semua kepastian akan harapan itu hilang. Ibarat seseorang yang sedang jatuh cinta mati pada seorang wanita, dia sudah mengincarnya selama berhari hari, tiba-tibat dia melihat wanita itu berjalan mesra bersama laki-laki lain. Apa selanjutnya dia mau melihat wanita itu kembali? Biasanya tidak, pasti akan sangat menyakitkan?
Disinilah akar masalah nya, semua ketakutan akan kegagalan telah memenuhi pikiranku sehingga tidak tersisa lagi ruangan bagi pikiran positif yang baru untuk masuk. Ibarat seperi gelas yang hampir tumpah sudah penuh air putih panas sehingga ketika mau di buat kopi tidak ada sisa ruangan gelas yang bisa di isi oleh bubuk kopi dan gula.
Semua kisah-kisah inspiratif seperti Thomas Alfa Edison yang menemukan lampu bolam setelah mengalami 1000 kali kegagalan kemudian kisah Mbak Angkie Yudhistia yang meskipun mengalami difabilitas dalam pendengarannya sehingga tidak bisa mendengarkan suara apapun tapi bisa berprestasi dan berkarir, hilang tidak terpikirkan olehku samasekali.
Oia, satu hal lagi. Aku terlalu fokus pada apa yang aku ingin miliki bukan fokus pada apa yang ingin aku hasilkan. Sehingga aku terjebak dalam perasaan ku sendiri.
Nah semoga cerita singkat ini bisa membantu :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar