Jumat, 28 November 2014

Malam

Malam adalah waktu terbaik untuk mencari inspirasi, menggali ide-ide kreatif, menenangkan diri, merenung, introspeksi diri, berdua dengan kekasih menjalin komunikasi yang romantis dan intim bagi yang sudah menikah, maupun mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.

Karna malam adalah waktu ketika sebagian besar mesin-mesin berhenti berderu mengeluarkan suara bising dan gas beracunnya. Ketika suhu udara mulai turun seiring degan kepergian sang matahari. Tidak ada lagi gangguan dari teman-teman yang jahil, tidak ada lagi atasan yang membentak-bentak, tidak ada lagi dosen yang ceramah cuap-cuap gak berhenti-henti.

Malam hari adalah saat dimana aku benar-benar menjadi orang yang merdeka. Aku memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang sepuasnya sampai pagi. Tidak ada yang melarangku untuk melakukannya. Saat itu semua orang sudah terlelap tidur, saat itu pula tidak ada tekanan, tidak ada tuntutan atau batas waktu yang bisa menghalangi ku untuk mencari inspirasi kecuali kelemahan diri ku sendiri, yaitu rasa lelah.

Malam hari adalah ketika aku dapat menatap rembulan yang terang yang dengan bentuk jelek tidak ratanya dia masih menyinari malam yang gelap gulita, menyampaikan cahaya yang dikirimkan oleh matahari yang tidak sempat menyinari bagian bumi yang aku pijak ini. Ada juga awan yang bergerak perlahan seakan dia tidak punya masalah ataupun tekanan yang membuat dia harus berlari. Apalagi ditambah dengan taburan bintang yang berkilau indah yang berubah warna tidak beraturan seakan mereka sedang bermain-main ceria.

Kesemuanya menggodaku untuk mencurahkan semua isi hatiku kepada sang penciptanya. Keluh kesah, doa, harapan, pertanyaan, dan semuanya. Karna aku yakin hanya dialah satu-satunya yang mau mendengar semua sampah-sampah ini disaat yang lain lebih peduli dengan urusan mereka masing-masing.  

Pada saat sepertiga malam terakhir Allah turun dari singasanyanya di langit ke tujuh ke langit ke satu, untuk melihat siapa sajakah hambanya yang rela bangun pada waktu itu untuk bertemu dengannya. Dan pada saat itu doa apapaun dari hambanya akan tidak ada yang lain kecuali akan dia kabulkan.
Dan ketika pagi menjelang maka aku akan jauh lebih siap untuk menyelesaikan berbagai tugas dan kewajiban yang harus aku lakukan dengan sebaik-baiknya. Udara dingin yang lembut membelai kulit ku dan mengisi rongga paru-paru yang haus akan oksigen. Sebagai penyempurna semagat dan harapan yang telah aku bangun pada malam hari tadi.


Ya Allah sungguh indah ciptaanmu, maka akan betapa lebih indahnya engkau. 

Kamis, 27 November 2014

Kembalinya Diriku

Sudah sekitar sembilan bulan sejak aku memutuskan untuk mencintai dan setia dengan seseorang, sejak saat itu pula hidupku berubah, aku suka perubahan ini. Tapi aku juga tidak suka kalau aku juga harus meninggalkan jati diriku.

Banyak sekali perbedaan antara aku dan dia, dia berasal dari keluarga pns dimana kemapanan di junjung tinggi oleh mereka sedangkan aku berasal dari keluarga pengusaha dimana prinsip kami adalah high risk high return. Kalau aku ngobrol dengan dia masalah peluang, resiko, dan inovasi sudah pasti gak akan ketemu atau nyambung. Otomatis aku harus cari bahan seputar peluang kerja, besaran gaji, dan promosi.

Gak cuma itu, gaya hidup kami juga beda. Sejak kecil aku sudah di didik untuk menabung, apapun yang ingin aku beli untuk kesenanganku harus aku beli sendiri dari uang tabungan bulanan yang aku terima. Bukan karena orang tuaku miskin tapi karna itulah pendidikan yang mereka berikan untuk anak-anaknya agar tahan banting. Sedangkan sepertinya hal ini tidak berlaku di keluarga dia.
Dan masih ada lagi hal-hal berbeda lainnya seperti aku lebih suka sendiri dan main seperlunya, sedangkan dia tiap hari main, entah libur atau enggak dia gak pernah absen main dan jalan-jalan. Awalnya aku berfikir tidak mungkin aku menjalani hubungan ini dengan begitu banyak perbedaan. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi dirinya dan secara perlahan aku dorong dia untuk menjadi diriku.

Tapi inilah hasil yang aku dapat, aku menjadi semakin jauh dari diriku dan rasanya seperti mau mati, dan setiap aku ngobrol dengan dia selalu berakhir panas karna sepertinya kita saling menuntut. Aku dihadapkan pada dua pilihan, kehilangan dia atau kehilangan diriku sendiri.

Berhari-hari aku seperti zombi yang berkeliaran di kota Jakarta. Kemanapun aku melangkah aku seperti orang yang tidak punya kesadaran karena melamun merenungkan apa ya solusi yang bisa aku lakukan.


Akhirnya aku menemukan suatu solusi yang win win, aku masih bisa mendapatkan diriku maupun dia. Aku memutuskan untuk mencintai dia seperti ketika pertama kali aku jatuh cinta padanya, aku gak peduli apapun yang dia lakukan aku mencintainya, aku sanjung dia, aku ingin menjadikannya putri dalam kerajaanku, aku ingin membuat hatinya jatuh kepadaku. Dengan begitu dia akan lebih mudah untuk menerima diriku apa adanya dan aku jadi semakin sayang sama dia tanpa syarat.

Indahnya kehidupan semakin terasa ketika bisa saling melengkapi dalam perbedaan. 


Karena Kamulah Satu-satunya Part 6

Sampai akhirnya aku tidak ingin berharap lagi dan itulah percakapan terakhirku dengan dia. Hari-hari setelah percakapan terakhir itu terasa begitu berat, aku memutuskan untuk tidak lagi membuka twitternya dan tidak akan lagi bicara dengan dia agar aku bisa melupakannya. Meskipun begitu tetap saja tidak ada kesibukan yang bisa mengalihkan perhatianku dari dia.

Sampai akhirnya pada minggu depan ayahku berubah pikiran. Dia ingin aku coba mendaftar ke perguruan tinggi impianku yaitu di PPM(Pusat Pelatihan Manajemen). Sekolah yang terletak di jantung Ibu Kota Jakarta, jaraknya kurang dari satu kilometer dari Tugu Monas yang dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit dan gedung-gedung kementrian. Tempat dimana ribuan keputusan dari pemerintahan maupun dari perusahaan multinasional diabil setiap harinya yang sangat menentukan masa depan Indonesia. Tempat dimana ribuan orang bermimpi ke sana dan berlomba untuk mencapai puncak karir tertinggi. Tempat dimana ribuan transaksi, deal dan kesepakatan bernilai jutaan dolar baik skala nasional maupun internasional terjadi setiap harinya. Sekolah dimana Chairul Tanjung si Anak Singkong pernah mengambil S2. Lingkungan yang sangat kondusif untuk membentuk karakter sebagai seorang eksekutif maupun sebagai entrepreneur. Setidaknya aku sedikit mendapat suntikan semangat setelah stress beberapa hari.

Ayahku adalah orang yang sangat peduli dengan pendidikan, dan untuk anak-anaknya, akan dia korbankan apapun yang di miliki untuk pendidikan mereka. Sehingga meskipun kuliah di PPM biayanya setara dengan SBM ITB tapi dia percaya. Selama aku bersungguh-sungguh semua kerja keras yang ayahku lakukan pasti akan terbayarkan suatu saat nanti.

Ingin rasanya aku mengabari rifda tentang kabar gembira ini, siapa tau dia mau berubah pikiran. Tapi aku tahan, apalah artinya ini bagi dia? Aku ingin dia menenagkan fikirannya dulu dari kekecawaanya terhadapku dan aku juga bisa menenagkan diri dari kekecewaanku terhadap dia. Satu bulan berlalu dan akhirnya aku bisa bertahan untuk tidak membuka twitternya lagi dan berhasil menjalani kehidupanku meskipun tanpa dia. Buktinya aku berhasil lolos tes beasiswa sehingga aku dapat potongan biaya masuk.

Bulan ke dua, perasaan kangen bercampur ingin tahu semakin besar, akhirnya pada pertengahan bulan ke dua ini aku melanggar aturanku sendiri, yaitu –become a stalker-. Tapi akhirnya setelah itu aku tobat sampai bulan ke tiga. Pada bulan ketiga ini penyakitku mulai kambuh lagi dan lebih parah dari sebelumnya. Kalau sebelumnya aku cuma ngintip status terakhirnya dia, sekarang aku intip semua statusnya dari sejak terakhir aku stalking sampai yang ter baru. Gara-gara ini juga akhirnya aku melanggar peraturanku yang berikutnya yaitu aku tidak akan bicara dengan dia sampai pada hari ulang tahunnnya  untuk mengucapkan selamat. Harapannya adalah dia jadi merasa meskipun sudah lama tidak ketemu tapi aku masih peduli.

Aku langgar peraturan ku dengan menanyakan gimana kabarnya melalui whatsapp, satu jam kemudian dia belum membalas, dua jam dan sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi berharap sama sekali, dan membiarkan semua kenagan biarlah tetap jadi kenangan. Aku stres berat, sepertinya aku sudah melakukan tindakan tolol, idiot, dan tidak sabaran yang telah membuat harga diriku jatuh kedalam palung samudra. Tidak lama kemudian teman kampusku Faishal ngajakin nonton film bareng, ajakan itu langsung aku terima mentah-mentah daripada stres dan gabut di kosan, mendingan refreshing.

Malam itu aku sama Faishal, Ai, Lia, dan satu lagi temennya Ai nonton Annabelle. Dari awal nonton aku udah gak sreg, ini bioskop XXI tapi soundnya gak mantep samasekali, plus subtitlenya kehalang sama. kepala orang yang duduk di depan. Sampai pertengahan film, momen seru yang aku tunggu-tunggu ternyata gak juga muncul dari tadi, aku mbatin “Ini film horror atau drama?!”. Akhirnya aku iseng ngecek hp daaan eh ternyata dia baaleesJ.  Langsung seketika itu juga aku lupa sama filmnya bahkan aku sampe gak tau gimana endingnya, asa bodo teuing. Kita bertukar cerita terus dari tadi sampai aku tiba di kosan sampai akhirnya  aku tidak kuasa lagi menahan kantuk, dan kemudian langsung tidur ‘good night baby, aku tidur dulu ya’.

The End

Karena Kamulah Satu-satunya Part 5

Tanpa keraguan aku keluar dari grup kelas malam itu juga dan aku putuskan untuk tidak kontak dengan Rifda lagi atupun stalking. Aku merasa memang aku ini korban php. Tidak lama kemudian temanku baim yang merasa bersalah mengontakku,
Baim: Dad, sory ya gw gak bermaksud gitu kok.
Aku:  Maksudnya?(pura-pura gak tau)
Baim: Itu yang di grup tadi.
Aku: Oh, ga papa kok santai aja.
Baim: Tapi kenapa keluar dari grup?
Aku: Oh, ga papa cuma biar bisa fokus aja ngerjain proyek software gw.
Baim: Kenapa harus keluar dari grup kn bisa di silent?
Aku: Tetep ga bisa im, gw harus keluar biar bisa fokus.

Tapi setelah itu aku merasa hubungan pertemanan ku jadi agak renggang. Cinta memang bisa membuat aku dekat dengan orang-orang tapi jika salah kelola bisa membuat aku jauh dari siapapun.

Beberapa minggu setelah aku marah besar aku penasaran dengan apa yang terjadi pada Rifda. Ternyata dia meretweet kata kata ini “Ini hati, bukan terminal yang bisa seenaknya datang lalu pergi”. Seketika aku merasa sangat bersalah aku tidak tahu kalau tindakan ku ini akan menyakiti dia. meskipun aku masih  menyimpan kekecewaan dan tanda tanya besar, mau dibawa kemana hubungan ini?. Tapi aku ingin minta maaf, karna seandainya harus ada salah satu yang terluka dalam hubungan ini maka sebaiknya itu adalah aku.

Setelah itu aku berencana untuk memberinya bunga. Aku tunggu di dekat rumahnya di daerah Antapani sampai sekitar jam 9. Tujuannya agar tidak ketahuan oleh orang tuanya, karna dia belum diperbolehkan juga pacaran oleh orang tuanya. Setelah lewat jam yang ditentukan aku menuju depan rumahnya. Singkat cerita, aku mengalami kegagalan. Dan akhirnya aku kembali pulang dengan perasaan super kecewa.

Tapi untungnya rifda bisa meredam kekecewaanku. Malam itu aku bisa merasakan kalau dia merasa bersalah dan dia begitu pedulinya menyuruh aku untuk segera pulang dan melanjutkan obrolan setelah aku sampai rumah. Karena pada saat itu sudah hampir jam 11 malam dan hawa udara bandung ternyata begitu dinginnya pada malam itu.

Setelah tiba di rumah dan menghangatkan diri, kita ngobrol sebentar dan dia memberi solusi dengan ngajak nonton bareng besok. Itu juga sesuai janjinya sekitar dua bulan yang lalu. Esok harinya akhirnya kita bertemu dan nonton bareng, tapi tidak banyak percakapan diantara kami. Aku merasa pertemuan hari ini gak efektif sama sekali, aku hampir putus asa saat itu. Tapi kemudian aku punya ide untuk memberikan bunga mawar yang aku beli kemarin saat nanti pulang.

Sore hari menjelang maghrib aku turunkan dia di depan jalan masuk ke komplek rumahnya. Sebelum aku pulang aku buka tas kecilku kemudian aku berikan bunga ke dia, dia bilang makasih. Setelah itu aku segera pulang.


Beberapa hari setelah pertemuan itu dia kirim whatsapp tanya kenapa aku gak mau masuk unpad padahal hasil pengumuman SBMPTN aku di terima, kemudian aku jawab dan aku jelaskan sebisa mungkin tapi dia jadi semakin kecewa. Keesokan harinya aku sapa dia lewat whatsapp, tapi tak ada balasan apapun dari dia, aku tunggu seharian pun juga tidak ada balasan

Part 6

Karena Kamulah Satu-satunya Part 4

Kembali ke laptop(kata tukul). Pasti ini dari dia, pelan-pelan aku ambil hp dengan tangan gemetar aku buka hp dan ternyata meskipun dia menolak, dia bilang begini “Makasih ya buat perasaanya tapi kita temenan dulu aja”, plus dikasih emoticon smiley wajah malu kemerahan. “Terimakasih ya Allah, ternyata ini tidak seburuk yang aku bayangkan”. Sehingga meskipun malam itu aku gak jadian dengan dia, tapi kita ngobrol panjang lebar sampe tengah malam.

Aahh betapa lega dan senangnya aku, karna pada malam itu pertama kalinya aku menyampaikan perasaan pada orang yang aku sukai dan pertama kalinya aku bisa ngobrol asik dengan orang yang sungguh-sungguh aku sukai. Malam itu perasaan ku bagaikan terbang dengan private jet diatas awan. Akhirnya aku bisa melanjutkan tidur dengan nyenyak.

Esok harinya, seperti biasa aku datang ke kelas lebih awal. Beberapa saat kemudian dia datang, ketika dia masuk kelas dia memberikan senyuman pertamanya, yang aku balas dengan senyuman juga. setelah itu dia duduk tepat di depanku. Aku senang sekaligus jantungan, karna setelah ini aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.

Aku tidak tahu bagaimana cara menghibur atau menyenangkan dia, karna selama masa hidupku ini aku habiskan waktu untuk ibadah, bekerja dan belajar. Aku dibesarkan dalam kondisi yang begitu sulit dan rumit, tidak ada kesempatan bagiku untuk main atau senang-senang. Aku tahu dia suka film, musik, bola, dan makan semua itu adalah hal yang sama sekali diluar kepala ku. Sedangkan makanan otakku sehari-hari adalah bisnis, algoritma, pasar, ekonomi, keuangan dll.

Cuma satu yang aku tau, pada saat itu nilai ujian try outnya selalu kurang. Nilainya tidak pernah cukup untuk lolos ke jurusan yang dia inginkan. Sedangkan aku punya trik cara belajar yang efektif, yang sudah aku ajarkan ke salah satu temanku dan hasilnya cukup baik.

Setelah itu aku hanya menjalin komunikasi melalui whatsapp dan tidak ada teman ku yang tau kecuali hanya beberapa orang. Ketika di kelas atau bertemu di manapun kita bagaikan orang asing yang belum saling kenal. Memang dia bilang dia ingin jadi teman dulu dan belum ingin ketemuan berdua kecuali setelah SBMPTN. Sehingga sering kita bertengkar karena aku cemburu, atau karena aku tolol, tapi kemudian rukun lagi, bertengkar, rukun lagi begitu seterusnya.

Sampai akhirnya mencapai puncak kesabaran ku. Saat itu aku sedang mengerjakan proyek java pertamaku. Sebelumnya aku menggunakan microsoft office accces. Karna ini proyek pertama, sehingga aku butuh konsentrasi penuh untuk memahami algoritma-algoritma rumit yang masih belum familiar di kepala ku. Disaat panas-panasnya kepala ini hp ku berbunyi, ternyata itu dari grup wa kelas GO ku. Setelah aku buka grup, ternyata Rifda ngobrol akrab sama teman ku yang namanya Baim.


Memang ketika kita chating berdua bisa akrab, tapi ketika di grup sepertinya dia menahan diri. Sepertinya dia gengsi kalau teman-teman tau kalau dia dekat dengan aku. Bahkan sudah lama twitter ku tidak di folback. Seketika pikiranku kosong, dan seakan tubuhku terlempar ke dalam suatu ruangan gelap, sempit dan terisolasi. Aku merasa harga diriku jatuh. Aku merasa sudah terlalu jauh aku memeprcayakan masa depanku pada orang yang hanya memberi harapan tapi palsu. Pura-pura peduli, pura-pura curhat tapi tidak pernah menginginkan aku sama sekali.

Part 5

Karena Kamulah Satu-satunya Part 3

Setelah keputusan itu aku ambil, kini aku harus memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mendekati dia. Tidak mudah bagiku untuk mendekati dia. Aku berusaha gimana caranya supaya bisa belajar bareng anak cewe di luar kelas, supaya aku bisa dekat dengan dia kemudian aku ajari dia cara belajar yang benar dan cara memandang materi pelajaran yang boring dari sudut pandang lain yang lebih menyenangkan.

Tapi semuanya berujung pada kegagalan. Tiga kali aku belajar bareng sama anak cewe tapi dia tidak ada. Satu kali belajar sama dia tapi aku malah bertingkah tolol, dan serba salah. Kemudian aku ingat, aku pernah lihat dia jalan sendiri waktu berngkat ke GO. Aku berfikir mungkin aku bisa menggunakan momen ini untuk nembak dia.

Pada suatu malam, akhrinya aku putuskan untuk beri dia coklat sambil aku sisipin surat penembakan ke dia. Ternyata pada keesokan harinya tidak satupun aku menemukan momen dimana dia berjalan sendiri tanpa teman-teman komplotannya, bahkan sampai tiga hari berturut-turut selalu sepeti ini. Sampai akhirnya pada hari terakhir aku duduk lemas di kursi kayu sebelah pintu masuk sambil mengutuki diri sendiri setelah mengalami kegagalan "Kenapa sebagai laki-laki aku begitu lemah".
Sepulang dari GO aku gk bisa mikir apapun, stresful. Aku coba cari-cari quote, artikel atau apapun tentang seputar cinta untuk sekedar menenangkan diri atau syukur-syukur dapet jalan keluar. Sampai akhirnya aku berhenti pada salah satu quotenya pak Mario Teguh yang kurang lebih bunyinya seperti ini "Jangan sampai kita melewatkan cinta kita hanya karna takut di tolak, bisa jadi kalian sudah saling mencintai tapi kalian tidak pernah tau karena takut"

Terbesit dalam pikiranku untuk nembak dia secara lansung melalui kontak whatsapp yang aku punya. Tapi niat itu aku urungkan karna kita kenalan aja belum udah main tembak, aku emang orang nya nekat, tapi gak segila itu juga kali. Beberapa jam kemudian aku mulai memikirkan opsi itu lagi, boleh juga gak ada salahnya di coba.

Aku ambil hp ku aku buka dan ketika jempol ku ini akan menyentuh tombol alfabet, segera aku letakkan hp ku dengan agak sedikit dibanting sambil menghela nafas huuff, untuuung aja belum. Tapi kok rasanya aku malah jadi menyesal ya? Aku ambil lagi hp, taruh lagi, ambil lagi, taruh lagi.
Stelah agak lama akhirnya aku nekat juga menyapa dia, dan gobloknya sekaligus nembak, kalau menurut dia itu namanya pengakuan. Pesan pun sudah terkirim dan tidak mungkin di rewind, tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk menyesali apa yang telah aku lakukan. Dengan perasaan campur aduk, aku menunggu balasan. Sampai satu jam berikutnya pun masih belum juga di balas.


Aku berusaha menenagkan diri dengan berbaring di kasur sampai akhirnya aku tertidur, aku gak peduli besok di kelas dia mau bilang apa, bersikap bagaimana. Sekitar jam sebelas malam hp ku bunyi, seketika itu juga aku langsung bangun, tubuhku berkeringetan dan jantung berdebar. Rasa-rasanya pada saat itu sekujur tubuhku mati rasa semua, seakan aku ini sudah mati beneran dan berada di alam kubur, apalagi kamarku lagi gelap dan rumahku sepi karna udah pada tidur. Pasti ini dari dia, pelan-pelan aku ambil hp dengan tangan gemetar aku buka hp dan dooor selamaat anda masuk supertrap (wueleh). 

Part 4

Karena Kamulah Satu-satunya Part 2

Terkadang saat di kelas sesekali aku memandangi dia dari bangku belakang  sambil aku bertanya kepada diriku sendiri “Apa sih, nilai lebih yang dia miliki sehingga dia begitu berharga?”.

Awalnya memang cuma sekedar penasaran, tanpa perasaan apapun, tapi sedikit demisedikit perasaan itu mulai ada. Dari hari ke hari saat aku pandangi dia lagi, rasanya dia makin cantik di mataku. Aku hanya menikmati saat-saat memandangi dia, tapi aku masih belum punya alasan yang kuat untuk melangkah lebih jauh.

Skiip, waktu liburan pun akhrinya tiba pada akhir bulan desember. Aku gak lagi memandangi dia selama liburan dan aku gak kepikiran untuk iseng-iseng stalking ke FB dia. Sampai akhirnya waktu liburan pun habis dan aku kembali masuk kelas, tapi hanya berlangsung sebentar karena setelah itu aku harus mengerjakan proyek software inventory. Selama pengerjaan software ini aku gak masuk kelas selama sebulan lebih, sampai-sampai teman-temanku ngira aku keluar dari GO.

Software inventory gudang pun akhirnya selesai, aku mulai masuk kelas lagi seperti biasa. Hari-hari pertama aku kembali masuk kelas setelah lebih dari sebulan tidak masuk kelas, aku merasa ada sesuatu yang sempat hilang selama satu bulan dan kini telah kembali lagi. Aku bisa memandangi dia lagi dan sekarang malah jadi makin sering. Gak hanya itu, aku juga berhasil menemukan twittern nya sehingga sekarang jadi makin sering stalking. Padahal biasanya tiga minggu sekali, sekarang hampir tiap hari.

Karena saking seringnya, aku jadi tau kalau saat itu dia sedang  sendiri dan entah kenapa aku punya firasat kalau dia belum pernah pacaran 'just like me'. Sebuah alasan yang membuat aku semakin ingin tahu siapa dia. Karena yang aku tahu pada saat itu adalah, cinta pertama itu tidak akan pernah terlupakan, bahkan meskipun telah berganti hati. Dan di jaman seperti ini cari wanita yang masih virgin saja susah apalagi yang  hatinya belum pernah dimiliki orang lain. Jadi kalau aku adalah yang pertama bagi dia dan dia yang pertama bagi ku semoga saja cinta ini bisa abadi.

Dan ketika aku mulai menyukainya, aku menyadari bahwa waktu yang aku miliki semakin sempit. Tinggal tersisa sekitar lima bulan lagi sebelum kita berpisah karena kita akan beda kampus saat kuliah nanti. Sedangkan alasan yang aku miliki belum cukup kuat untuk memilikinya. Masih ada banyak segudang ketakutan yang harus aku hadapi.

Seperti, aku belum punya pengalaman dalam hal cinta, aku juga tidak akan diperbolehkan untuk pacaran karna ayahku orangnya militan dalam beragama dan pada saat itu Rifda belum berkerudung -meskipun aku yakin suatu ketika dia akan berkerudung karna ibunya berkerudung, kemudian aku belum yakin apakah aku bisa mempercayai dia, dan yang terakhir adalah apakah aku cukup pantas untuk dia.

Sejak saat itu aku mulai mengoreksi segala ketakutan-ketakutan yang aku miliki. Selain itu aku juga berusaha memantaskan diri untuk dia. Aku baca banyak artikel dan quote tentang menjadi seorang gentleman. Termasuk aku juga belajar membentuk tubuh yang ideal, berpenampilan yang baik, bersikap yang gentle. Karna aku yakin, pintar saja tidak akan cukup.


Setelah melalui pertimbangan yang cukup lama dan istikharoh, akhirnya aku memutuskan untuk mencintai dia sepenuhnya. Keputusan yang bukan hanya sekedar untuk menyukai dia, tapi juga memutuskan untuk menerima apapun kekurangannya, dan memutuskan apapun yang terjadi aku harus komitmen, tidak mudah menyerah dan siap menanggung segala resikonya.

Part 3

Karena Kamulah Satu-satunya Part 1

Cinta, perasaan yang sulit di gambarkan dan datang nya dari mana pun kita tidak tau. Seperti menggali inti bumi kalau kita ingin mengetahui apa arti cinta, selalu saja ada yang harus di gali sedangkan inti buminya tidak tercapai-capai. Inilah sepenggal kisah hidupku yang menjadikan tahun 2014 ini menjadi tahun yang paling berwana dalam hidupku. 

Semua berawal dari keputusan yang aku ambil untuk melanjutkan kuliah sekitar bulan juni 2013. Saat itu aku masih tinggal di Jakarta bertanggung jawab terhadap keberlangsungan salah satu cabang Sakinah Kerudung, usaha milik orang tua ku. Sebelumnya aku berfikir tidak perlu gelar untuk menjadi pengusaha sukses bahkan ijasah SMA pun aku tidak punya.

Ayahku sangat bahagia menyambut keputusanku ini, sampai-sampai dia selalu mengatakan kalimat ini belulang-ulang dalam berbagai kesempatan "Kamu punya otak yang luar biasa, abi yakin sebenarnya kamu bisa melakukan sesuatu yang lebih besar dari ini, sayang kalau kemampuan otakmu itu tidak di maksimalkan".

Segera setelah itu aku mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian kesetaraan SMA untuk tahun depan melalui paket C. Dan ayahku meminta aku untuk tinggal di Bandung agar aku bisa fokus belajar, kemudian urusan cabang di jakarta diabil alih oleh orang tuaku sepenuhnya.

Pada pertengahan bulan agustus banyak bimbel mulai membuka kelas alumni, dan salah satunya adalah Ganesha Operation (GO). Sempat aku berfikir apakah aku perlu mengikuti kelas bimbel? Tanpa bermaksud sombong, aku bisa belajar sendiri tanpa guru. Tapi ayah ku mendorong untuk ikut bimbel, karena dengan mengikuti bimbel aku akan mendapatkan atmosphere persaingan dalam menghadapi sbmptn dan supaya  aku juga mengetahui medan perang yang akan aku hadapi.

Hari pertama berjalan lancar, aku berkenalan dengan lingkungan baru di sisni, berkenalan juga dengan teman teman baru. Selain itu aku juga melakukan apa yang biasa semua orang lakukan ketika mereka masuk ke lingkungan baru, entah itu sekolah, kantor, atau bahkan pesta ulang tahun temannya, terutama bagi para jomblo. Yaitu iseng iseng mengincar lawan jenis, siapa tau jodohnya ada di situ:).

Sebelumnya aku memang belum pernah pacaran, tapi aku juga tidak mau buru buru ingin pacaran hanya karena gengsi. Bagiku pacaran bukan soal coba-coba apalagi main-main.

Tapi Allah berkehendak lain, pada suatu hari masih di minggu pertama aku berjalan bersama teman teman menuju tempat kami para anak cowo biasa nongkrong setelah pelajaran di kelas selesai. Ditengah jalan aku melihat salah satu cewe sekelas yang aku belum aku kenal. Seketika itu juga langkahku melambat, pandanganku tiba tiba fokus. Aku lihat dia  jalan sama teman teman cewe lainnya menuju loby, mungkin mereka mau menanyakan informasi kepada staf GO. Tanpa aku sadar mengalir begitu saja kata-kata ini dalam hatiku "Masa depan itu cuma Allah yang tau, tapi apakah ada dalam pengetahuan yang Allah miliki itu tercatat bahwa entah dalam beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun ke depan dia akan ada di sisi menemaniku dalam masa kegagalan maupun kesuksesan?".

Segera aku tersadar dari lamunan setelah menyadari aku mulai tertinggal dari gerombolan teman temanku. Peristiwa yang hanya beberapa detik itu terjadi begitu saja tanpa aku sengaja sama sekali. Bahkan ketika nongkrong dan sanpai perjalanan pulang naik motor pun aku masih kepikirankenapa aku bisa reflek melakukan itu tadi, padahal namanya saja aku belum tau?”.

Hari hari berikutnya semua berjalan normal seperti biasa, aku belajar untuk mengejar ketertinggalan materi. Hanya saja seletelah peristiwa hari itu aku jadi semakin ingin tahu siapa dia, hanya sekedar ingin tahu saja tanpa ada perasaan atau berharap apapun.

Minggu berikutnya aku sudah tau namanya adalah Rifda, beberapa minggu kemudian tau nama panjangnya 'Rifda Widayanti'. Kemudian dengan modal nama panjangnya aku temukan FB miliknya. 

Part 2

Kembali Menulis

Sudah lama aku tidak menulis di blog ini sejak hari pertama mulai kuliah. Entah kenapa aku begitu malas unutuk mengabadikan beberapa pikiran yang pernah terlintas di dalam kepalaku yang padahal bisa jadi suatu ketika akan bermanfaat bagi diriku sendiri atau orang yang akan membaca nya. Hingga akhrinya pada pagi hari ini dengan kehendak Allah aku membuka-buka halaman facebook yang jarang aku buka.

Aku menemukan sebuah posting dari teman SMA yang sangat bagus “Kami saling bertukar cerita, tapi sebenarnya tidak benar-benar mengetahui satu sama lain. Dan itu terbukti saat kubuka kado ulang tahunnya.........”. Awalnya aku pikir ini adalah kado dari seseorang yang spesial bagi dia. Ternyata setelah aku baca artikel di dalam websitenya itu adalah kado dari teman penanya.

Dari satu artikel yang aku salah presepsikan, aku beralih ke artikel lainnya. Sampai akhirnya aku harus bilang sh*t, hebat sekali temanku yang satu ini dalam merangkai kata-kata. Ketika matahari semakin naik ke atas menandakan akan semakin dekatnya waktu masuk kuliah justru aku malah semakin tenggelam dalam lautan kata-katanya. Aku harus angkat jempol empat untuk dia, kata-katanya begitu puitis dan maknanya dalam.

Bahkan ada satu postingannya yang aku kutip di twitter karna bagus dan tepat sekali dengan kebutuhanku. Yaitu aku ingin menunjukkan perasaan ku pada seseorang yang jauh dari tempat aku tinggal yang dulu kita pernah bersama meskipun hanya sebentar.


Kangen aku sama temenku yang satu ini. Dari tulisannya ini aku juga jadi sadar tentang nilai-nilai luhur dari keimanan dan ketakwaan yang saat ini sudah begitu jauh aku tinggalkan. Dan aku juga di sadarkan bahwa aku telah meninggalkan kebiasaan menulisku.