Kamis, 27 November 2014

Karena Kamulah Satu-satunya Part 2

Terkadang saat di kelas sesekali aku memandangi dia dari bangku belakang  sambil aku bertanya kepada diriku sendiri “Apa sih, nilai lebih yang dia miliki sehingga dia begitu berharga?”.

Awalnya memang cuma sekedar penasaran, tanpa perasaan apapun, tapi sedikit demisedikit perasaan itu mulai ada. Dari hari ke hari saat aku pandangi dia lagi, rasanya dia makin cantik di mataku. Aku hanya menikmati saat-saat memandangi dia, tapi aku masih belum punya alasan yang kuat untuk melangkah lebih jauh.

Skiip, waktu liburan pun akhrinya tiba pada akhir bulan desember. Aku gak lagi memandangi dia selama liburan dan aku gak kepikiran untuk iseng-iseng stalking ke FB dia. Sampai akhirnya waktu liburan pun habis dan aku kembali masuk kelas, tapi hanya berlangsung sebentar karena setelah itu aku harus mengerjakan proyek software inventory. Selama pengerjaan software ini aku gak masuk kelas selama sebulan lebih, sampai-sampai teman-temanku ngira aku keluar dari GO.

Software inventory gudang pun akhirnya selesai, aku mulai masuk kelas lagi seperti biasa. Hari-hari pertama aku kembali masuk kelas setelah lebih dari sebulan tidak masuk kelas, aku merasa ada sesuatu yang sempat hilang selama satu bulan dan kini telah kembali lagi. Aku bisa memandangi dia lagi dan sekarang malah jadi makin sering. Gak hanya itu, aku juga berhasil menemukan twittern nya sehingga sekarang jadi makin sering stalking. Padahal biasanya tiga minggu sekali, sekarang hampir tiap hari.

Karena saking seringnya, aku jadi tau kalau saat itu dia sedang  sendiri dan entah kenapa aku punya firasat kalau dia belum pernah pacaran 'just like me'. Sebuah alasan yang membuat aku semakin ingin tahu siapa dia. Karena yang aku tahu pada saat itu adalah, cinta pertama itu tidak akan pernah terlupakan, bahkan meskipun telah berganti hati. Dan di jaman seperti ini cari wanita yang masih virgin saja susah apalagi yang  hatinya belum pernah dimiliki orang lain. Jadi kalau aku adalah yang pertama bagi dia dan dia yang pertama bagi ku semoga saja cinta ini bisa abadi.

Dan ketika aku mulai menyukainya, aku menyadari bahwa waktu yang aku miliki semakin sempit. Tinggal tersisa sekitar lima bulan lagi sebelum kita berpisah karena kita akan beda kampus saat kuliah nanti. Sedangkan alasan yang aku miliki belum cukup kuat untuk memilikinya. Masih ada banyak segudang ketakutan yang harus aku hadapi.

Seperti, aku belum punya pengalaman dalam hal cinta, aku juga tidak akan diperbolehkan untuk pacaran karna ayahku orangnya militan dalam beragama dan pada saat itu Rifda belum berkerudung -meskipun aku yakin suatu ketika dia akan berkerudung karna ibunya berkerudung, kemudian aku belum yakin apakah aku bisa mempercayai dia, dan yang terakhir adalah apakah aku cukup pantas untuk dia.

Sejak saat itu aku mulai mengoreksi segala ketakutan-ketakutan yang aku miliki. Selain itu aku juga berusaha memantaskan diri untuk dia. Aku baca banyak artikel dan quote tentang menjadi seorang gentleman. Termasuk aku juga belajar membentuk tubuh yang ideal, berpenampilan yang baik, bersikap yang gentle. Karna aku yakin, pintar saja tidak akan cukup.


Setelah melalui pertimbangan yang cukup lama dan istikharoh, akhirnya aku memutuskan untuk mencintai dia sepenuhnya. Keputusan yang bukan hanya sekedar untuk menyukai dia, tapi juga memutuskan untuk menerima apapun kekurangannya, dan memutuskan apapun yang terjadi aku harus komitmen, tidak mudah menyerah dan siap menanggung segala resikonya.

Part 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar