Terkadang saat di kelas
sesekali aku memandangi dia dari bangku belakang
sambil aku bertanya kepada diriku sendiri “Apa sih, nilai lebih yang dia
miliki sehingga dia begitu berharga?”.
Awalnya memang cuma sekedar penasaran, tanpa perasaan apapun, tapi sedikit demisedikit perasaan
itu mulai ada.
Dari hari ke hari saat aku pandangi dia lagi, rasanya dia makin cantik di
mataku. Aku hanya menikmati saat-saat memandangi dia, tapi aku masih belum
punya alasan yang kuat untuk melangkah lebih jauh.
Skiip,
waktu liburan pun akhrinya tiba pada akhir bulan
desember. Aku gak lagi memandangi dia selama liburan dan aku gak
kepikiran untuk iseng-iseng stalking ke FB dia. Sampai akhirnya waktu liburan pun habis dan aku kembali masuk kelas, tapi hanya berlangsung
sebentar karena setelah itu aku harus mengerjakan proyek software inventory. Selama
pengerjaan software ini aku gak masuk kelas selama sebulan lebih, sampai-sampai
teman-temanku ngira aku keluar dari GO.
Software inventory gudang
pun akhirnya selesai, aku mulai masuk kelas lagi seperti biasa. Hari-hari
pertama aku kembali masuk kelas setelah lebih dari sebulan tidak masuk kelas,
aku merasa ada sesuatu yang sempat hilang selama satu bulan dan kini telah
kembali lagi. Aku bisa memandangi dia lagi dan sekarang malah jadi makin
sering. Gak hanya itu, aku juga berhasil menemukan twittern nya sehingga
sekarang jadi makin sering stalking. Padahal biasanya tiga minggu sekali, sekarang hampir tiap hari.
Karena saking seringnya, aku jadi tau kalau saat itu
dia sedang sendiri dan entah kenapa aku
punya firasat kalau dia belum pernah pacaran 'just like me'. Sebuah alasan yang
membuat aku semakin ingin tahu siapa dia. Karena yang aku tahu pada saat itu
adalah, cinta pertama itu tidak akan pernah terlupakan, bahkan meskipun telah
berganti hati. Dan di jaman seperti ini cari wanita yang masih virgin saja
susah apalagi yang hatinya belum pernah
dimiliki orang lain. Jadi kalau aku adalah yang pertama bagi dia dan dia yang
pertama bagi ku semoga saja cinta ini bisa abadi.
Dan ketika aku mulai menyukainya, aku menyadari bahwa
waktu yang aku miliki semakin sempit. Tinggal tersisa sekitar lima bulan lagi
sebelum kita berpisah karena kita akan beda kampus saat kuliah nanti. Sedangkan
alasan yang aku miliki belum cukup kuat untuk memilikinya. Masih ada banyak
segudang ketakutan yang harus aku hadapi.
Seperti, aku belum punya pengalaman dalam hal cinta,
aku juga tidak akan diperbolehkan untuk pacaran karna ayahku orangnya militan
dalam beragama dan pada saat itu Rifda belum berkerudung -meskipun aku yakin
suatu ketika dia akan berkerudung karna ibunya berkerudung, kemudian aku belum
yakin apakah aku bisa mempercayai dia, dan yang terakhir adalah apakah aku
cukup pantas untuk dia.
Sejak saat itu aku mulai mengoreksi segala
ketakutan-ketakutan yang aku miliki. Selain itu aku juga berusaha memantaskan
diri untuk dia. Aku baca banyak artikel dan quote tentang menjadi seorang
gentleman. Termasuk aku juga belajar membentuk tubuh yang ideal, berpenampilan
yang baik, bersikap yang gentle. Karna aku yakin, pintar saja tidak akan cukup.
Setelah melalui pertimbangan yang cukup lama dan
istikharoh, akhirnya aku memutuskan untuk mencintai dia sepenuhnya. Keputusan
yang bukan hanya sekedar untuk menyukai dia, tapi juga memutuskan untuk
menerima apapun kekurangannya, dan memutuskan apapun yang terjadi aku harus
komitmen, tidak mudah menyerah dan siap menanggung segala resikonya.
Part 3
Part 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar