Kamis, 27 November 2014

Karena Kamulah Satu-satunya Part 6

Sampai akhirnya aku tidak ingin berharap lagi dan itulah percakapan terakhirku dengan dia. Hari-hari setelah percakapan terakhir itu terasa begitu berat, aku memutuskan untuk tidak lagi membuka twitternya dan tidak akan lagi bicara dengan dia agar aku bisa melupakannya. Meskipun begitu tetap saja tidak ada kesibukan yang bisa mengalihkan perhatianku dari dia.

Sampai akhirnya pada minggu depan ayahku berubah pikiran. Dia ingin aku coba mendaftar ke perguruan tinggi impianku yaitu di PPM(Pusat Pelatihan Manajemen). Sekolah yang terletak di jantung Ibu Kota Jakarta, jaraknya kurang dari satu kilometer dari Tugu Monas yang dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit dan gedung-gedung kementrian. Tempat dimana ribuan keputusan dari pemerintahan maupun dari perusahaan multinasional diabil setiap harinya yang sangat menentukan masa depan Indonesia. Tempat dimana ribuan orang bermimpi ke sana dan berlomba untuk mencapai puncak karir tertinggi. Tempat dimana ribuan transaksi, deal dan kesepakatan bernilai jutaan dolar baik skala nasional maupun internasional terjadi setiap harinya. Sekolah dimana Chairul Tanjung si Anak Singkong pernah mengambil S2. Lingkungan yang sangat kondusif untuk membentuk karakter sebagai seorang eksekutif maupun sebagai entrepreneur. Setidaknya aku sedikit mendapat suntikan semangat setelah stress beberapa hari.

Ayahku adalah orang yang sangat peduli dengan pendidikan, dan untuk anak-anaknya, akan dia korbankan apapun yang di miliki untuk pendidikan mereka. Sehingga meskipun kuliah di PPM biayanya setara dengan SBM ITB tapi dia percaya. Selama aku bersungguh-sungguh semua kerja keras yang ayahku lakukan pasti akan terbayarkan suatu saat nanti.

Ingin rasanya aku mengabari rifda tentang kabar gembira ini, siapa tau dia mau berubah pikiran. Tapi aku tahan, apalah artinya ini bagi dia? Aku ingin dia menenagkan fikirannya dulu dari kekecawaanya terhadapku dan aku juga bisa menenagkan diri dari kekecewaanku terhadap dia. Satu bulan berlalu dan akhirnya aku bisa bertahan untuk tidak membuka twitternya lagi dan berhasil menjalani kehidupanku meskipun tanpa dia. Buktinya aku berhasil lolos tes beasiswa sehingga aku dapat potongan biaya masuk.

Bulan ke dua, perasaan kangen bercampur ingin tahu semakin besar, akhirnya pada pertengahan bulan ke dua ini aku melanggar aturanku sendiri, yaitu –become a stalker-. Tapi akhirnya setelah itu aku tobat sampai bulan ke tiga. Pada bulan ketiga ini penyakitku mulai kambuh lagi dan lebih parah dari sebelumnya. Kalau sebelumnya aku cuma ngintip status terakhirnya dia, sekarang aku intip semua statusnya dari sejak terakhir aku stalking sampai yang ter baru. Gara-gara ini juga akhirnya aku melanggar peraturanku yang berikutnya yaitu aku tidak akan bicara dengan dia sampai pada hari ulang tahunnnya  untuk mengucapkan selamat. Harapannya adalah dia jadi merasa meskipun sudah lama tidak ketemu tapi aku masih peduli.

Aku langgar peraturan ku dengan menanyakan gimana kabarnya melalui whatsapp, satu jam kemudian dia belum membalas, dua jam dan sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi berharap sama sekali, dan membiarkan semua kenagan biarlah tetap jadi kenangan. Aku stres berat, sepertinya aku sudah melakukan tindakan tolol, idiot, dan tidak sabaran yang telah membuat harga diriku jatuh kedalam palung samudra. Tidak lama kemudian teman kampusku Faishal ngajakin nonton film bareng, ajakan itu langsung aku terima mentah-mentah daripada stres dan gabut di kosan, mendingan refreshing.

Malam itu aku sama Faishal, Ai, Lia, dan satu lagi temennya Ai nonton Annabelle. Dari awal nonton aku udah gak sreg, ini bioskop XXI tapi soundnya gak mantep samasekali, plus subtitlenya kehalang sama. kepala orang yang duduk di depan. Sampai pertengahan film, momen seru yang aku tunggu-tunggu ternyata gak juga muncul dari tadi, aku mbatin “Ini film horror atau drama?!”. Akhirnya aku iseng ngecek hp daaan eh ternyata dia baaleesJ.  Langsung seketika itu juga aku lupa sama filmnya bahkan aku sampe gak tau gimana endingnya, asa bodo teuing. Kita bertukar cerita terus dari tadi sampai aku tiba di kosan sampai akhirnya  aku tidak kuasa lagi menahan kantuk, dan kemudian langsung tidur ‘good night baby, aku tidur dulu ya’.

The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar