Sampai akhirnya aku tidak
ingin berharap lagi dan itulah percakapan terakhirku dengan dia. Hari-hari
setelah percakapan terakhir itu terasa begitu berat, aku memutuskan untuk tidak lagi
membuka twitternya dan tidak akan lagi bicara dengan dia agar
aku bisa
melupakannya. Meskipun begitu tetap saja tidak ada kesibukan yang bisa mengalihkan perhatianku dari
dia.
Sampai akhirnya pada
minggu depan ayahku berubah pikiran. Dia ingin aku coba mendaftar ke perguruan
tinggi impianku yaitu di PPM(Pusat Pelatihan Manajemen). Sekolah yang terletak
di jantung Ibu Kota Jakarta, jaraknya kurang dari satu kilometer dari Tugu
Monas yang dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit dan gedung-gedung
kementrian. Tempat dimana ribuan keputusan dari pemerintahan maupun dari
perusahaan multinasional diabil setiap harinya yang sangat menentukan masa
depan Indonesia. Tempat dimana ribuan orang bermimpi ke sana dan berlomba untuk
mencapai puncak karir tertinggi. Tempat dimana ribuan transaksi, deal dan
kesepakatan bernilai jutaan dolar baik skala nasional maupun internasional
terjadi setiap harinya. Sekolah dimana Chairul Tanjung si Anak Singkong pernah
mengambil S2. Lingkungan yang sangat kondusif untuk membentuk karakter sebagai
seorang eksekutif maupun sebagai entrepreneur. Setidaknya aku sedikit mendapat
suntikan semangat setelah stress beberapa hari.
Ayahku adalah orang yang
sangat peduli dengan pendidikan, dan untuk anak-anaknya, akan dia korbankan
apapun yang di miliki untuk pendidikan mereka. Sehingga meskipun kuliah di PPM
biayanya setara dengan SBM ITB tapi dia percaya. Selama aku bersungguh-sungguh
semua kerja keras yang ayahku lakukan pasti akan terbayarkan suatu saat nanti.
Ingin rasanya aku
mengabari rifda tentang kabar gembira ini, siapa
tau dia mau berubah pikiran. Tapi
aku tahan, apalah artinya ini bagi dia? Aku ingin dia menenagkan fikirannya
dulu dari kekecawaanya terhadapku dan aku juga bisa menenagkan diri dari kekecewaanku
terhadap dia. Satu bulan berlalu dan akhirnya aku bisa bertahan untuk tidak
membuka twitternya lagi dan berhasil menjalani kehidupanku meskipun tanpa dia.
Buktinya aku berhasil lolos tes beasiswa sehingga aku dapat potongan biaya
masuk.
Bulan ke dua, perasaan
kangen bercampur ingin tahu semakin besar, akhirnya pada pertengahan bulan ke
dua ini aku melanggar aturanku sendiri, yaitu –become a stalker-. Tapi akhirnya
setelah itu aku tobat sampai bulan ke tiga. Pada bulan ketiga ini penyakitku
mulai kambuh lagi dan lebih parah dari sebelumnya. Kalau sebelumnya aku cuma
ngintip status terakhirnya dia, sekarang aku intip semua statusnya dari sejak
terakhir aku stalking sampai yang ter baru. Gara-gara ini juga akhirnya aku
melanggar peraturanku yang berikutnya yaitu aku tidak akan bicara dengan dia
sampai pada hari ulang tahunnnya untuk
mengucapkan selamat. Harapannya adalah dia jadi merasa meskipun sudah lama
tidak ketemu tapi aku masih peduli.
Aku langgar peraturan ku
dengan menanyakan gimana kabarnya melalui whatsapp, satu jam kemudian dia belum
membalas, dua jam dan sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi berharap
sama sekali, dan membiarkan semua kenagan biarlah tetap jadi kenangan. Aku
stres berat, sepertinya aku sudah melakukan tindakan tolol, idiot, dan tidak
sabaran yang telah membuat harga diriku jatuh kedalam palung samudra. Tidak
lama kemudian teman kampusku Faishal ngajakin nonton film bareng, ajakan itu
langsung aku terima mentah-mentah daripada stres dan gabut di kosan, mendingan
refreshing.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar