Kamis, 27 November 2014

Karena Kamulah Satu-satunya Part 3

Setelah keputusan itu aku ambil, kini aku harus memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mendekati dia. Tidak mudah bagiku untuk mendekati dia. Aku berusaha gimana caranya supaya bisa belajar bareng anak cewe di luar kelas, supaya aku bisa dekat dengan dia kemudian aku ajari dia cara belajar yang benar dan cara memandang materi pelajaran yang boring dari sudut pandang lain yang lebih menyenangkan.

Tapi semuanya berujung pada kegagalan. Tiga kali aku belajar bareng sama anak cewe tapi dia tidak ada. Satu kali belajar sama dia tapi aku malah bertingkah tolol, dan serba salah. Kemudian aku ingat, aku pernah lihat dia jalan sendiri waktu berngkat ke GO. Aku berfikir mungkin aku bisa menggunakan momen ini untuk nembak dia.

Pada suatu malam, akhrinya aku putuskan untuk beri dia coklat sambil aku sisipin surat penembakan ke dia. Ternyata pada keesokan harinya tidak satupun aku menemukan momen dimana dia berjalan sendiri tanpa teman-teman komplotannya, bahkan sampai tiga hari berturut-turut selalu sepeti ini. Sampai akhirnya pada hari terakhir aku duduk lemas di kursi kayu sebelah pintu masuk sambil mengutuki diri sendiri setelah mengalami kegagalan "Kenapa sebagai laki-laki aku begitu lemah".
Sepulang dari GO aku gk bisa mikir apapun, stresful. Aku coba cari-cari quote, artikel atau apapun tentang seputar cinta untuk sekedar menenangkan diri atau syukur-syukur dapet jalan keluar. Sampai akhirnya aku berhenti pada salah satu quotenya pak Mario Teguh yang kurang lebih bunyinya seperti ini "Jangan sampai kita melewatkan cinta kita hanya karna takut di tolak, bisa jadi kalian sudah saling mencintai tapi kalian tidak pernah tau karena takut"

Terbesit dalam pikiranku untuk nembak dia secara lansung melalui kontak whatsapp yang aku punya. Tapi niat itu aku urungkan karna kita kenalan aja belum udah main tembak, aku emang orang nya nekat, tapi gak segila itu juga kali. Beberapa jam kemudian aku mulai memikirkan opsi itu lagi, boleh juga gak ada salahnya di coba.

Aku ambil hp ku aku buka dan ketika jempol ku ini akan menyentuh tombol alfabet, segera aku letakkan hp ku dengan agak sedikit dibanting sambil menghela nafas huuff, untuuung aja belum. Tapi kok rasanya aku malah jadi menyesal ya? Aku ambil lagi hp, taruh lagi, ambil lagi, taruh lagi.
Stelah agak lama akhirnya aku nekat juga menyapa dia, dan gobloknya sekaligus nembak, kalau menurut dia itu namanya pengakuan. Pesan pun sudah terkirim dan tidak mungkin di rewind, tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk menyesali apa yang telah aku lakukan. Dengan perasaan campur aduk, aku menunggu balasan. Sampai satu jam berikutnya pun masih belum juga di balas.


Aku berusaha menenagkan diri dengan berbaring di kasur sampai akhirnya aku tertidur, aku gak peduli besok di kelas dia mau bilang apa, bersikap bagaimana. Sekitar jam sebelas malam hp ku bunyi, seketika itu juga aku langsung bangun, tubuhku berkeringetan dan jantung berdebar. Rasa-rasanya pada saat itu sekujur tubuhku mati rasa semua, seakan aku ini sudah mati beneran dan berada di alam kubur, apalagi kamarku lagi gelap dan rumahku sepi karna udah pada tidur. Pasti ini dari dia, pelan-pelan aku ambil hp dengan tangan gemetar aku buka hp dan dooor selamaat anda masuk supertrap (wueleh). 

Part 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar