Setelah keputusan itu aku ambil, kini aku harus
memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mendekati dia. Tidak mudah bagiku
untuk mendekati dia. Aku berusaha gimana caranya supaya bisa belajar bareng
anak cewe di luar kelas, supaya aku bisa dekat dengan dia kemudian aku ajari
dia cara belajar yang benar dan cara memandang materi pelajaran yang boring
dari sudut pandang lain yang lebih menyenangkan.
Tapi semuanya berujung pada kegagalan. Tiga kali aku
belajar bareng sama anak cewe tapi dia tidak ada. Satu kali belajar sama dia
tapi aku malah bertingkah tolol, dan serba salah. Kemudian aku ingat, aku
pernah lihat dia jalan sendiri waktu berngkat ke GO. Aku berfikir mungkin aku
bisa menggunakan momen ini untuk nembak dia.
Pada
suatu malam, akhrinya aku putuskan untuk beri dia coklat sambil aku sisipin
surat penembakan ke dia. Ternyata pada keesokan harinya tidak satupun
aku menemukan momen dimana dia berjalan sendiri tanpa teman-teman komplotannya,
bahkan sampai tiga hari berturut-turut selalu sepeti ini. Sampai akhirnya pada
hari terakhir aku duduk lemas di kursi kayu sebelah pintu masuk sambil
mengutuki diri sendiri setelah mengalami kegagalan "Kenapa sebagai
laki-laki aku begitu lemah".
Sepulang dari GO aku gk bisa mikir apapun, stresful. Aku coba
cari-cari quote, artikel atau apapun tentang seputar cinta untuk sekedar menenangkan
diri atau syukur-syukur dapet jalan keluar. Sampai akhirnya aku berhenti pada
salah satu quotenya pak Mario Teguh yang kurang lebih bunyinya seperti ini
"Jangan sampai kita melewatkan cinta kita hanya karna takut di tolak, bisa
jadi kalian sudah saling mencintai tapi kalian tidak pernah tau karena takut"
Terbesit dalam pikiranku untuk nembak dia secara lansung melalui
kontak whatsapp yang aku punya. Tapi niat itu aku
urungkan karna kita kenalan aja belum udah main tembak, aku emang orang nya
nekat, tapi gak segila itu juga kali. Beberapa jam kemudian aku mulai
memikirkan opsi itu lagi, boleh juga gak ada salahnya di coba.
Aku ambil hp ku aku buka dan ketika jempol ku ini akan menyentuh
tombol alfabet, segera aku
letakkan hp ku dengan agak sedikit dibanting sambil menghela nafas huuff,
untuuung aja belum. Tapi kok rasanya aku malah jadi menyesal ya? Aku ambil lagi
hp, taruh lagi, ambil lagi, taruh lagi.
Stelah agak lama akhirnya aku nekat juga menyapa dia, dan
gobloknya sekaligus nembak, kalau menurut dia itu namanya pengakuan. Pesan pun sudah terkirim dan tidak mungkin di rewind, tidak ada
lagi kesempatan bagiku untuk menyesali apa yang telah aku lakukan. Dengan
perasaan campur aduk, aku menunggu balasan. Sampai satu jam berikutnya pun masih belum juga
di balas.
Aku berusaha menenagkan diri dengan berbaring di kasur sampai
akhirnya aku tertidur, aku gak peduli besok di kelas dia mau bilang apa,
bersikap bagaimana. Sekitar jam sebelas malam hp ku bunyi, seketika itu juga
aku langsung bangun, tubuhku berkeringetan dan jantung berdebar. Rasa-rasanya
pada saat itu sekujur tubuhku mati rasa semua, seakan aku ini sudah mati
beneran dan berada di alam kubur, apalagi kamarku lagi gelap dan rumahku
sepi karna udah pada tidur. “Pasti ini dari dia”, pelan-pelan aku ambil hp dengan tangan gemetar aku buka hp dan
dooor selamaat anda masuk supertrap (wueleh).
Part 4
Part 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar