Kamis, 27 November 2014

Kembalinya Diriku

Sudah sekitar sembilan bulan sejak aku memutuskan untuk mencintai dan setia dengan seseorang, sejak saat itu pula hidupku berubah, aku suka perubahan ini. Tapi aku juga tidak suka kalau aku juga harus meninggalkan jati diriku.

Banyak sekali perbedaan antara aku dan dia, dia berasal dari keluarga pns dimana kemapanan di junjung tinggi oleh mereka sedangkan aku berasal dari keluarga pengusaha dimana prinsip kami adalah high risk high return. Kalau aku ngobrol dengan dia masalah peluang, resiko, dan inovasi sudah pasti gak akan ketemu atau nyambung. Otomatis aku harus cari bahan seputar peluang kerja, besaran gaji, dan promosi.

Gak cuma itu, gaya hidup kami juga beda. Sejak kecil aku sudah di didik untuk menabung, apapun yang ingin aku beli untuk kesenanganku harus aku beli sendiri dari uang tabungan bulanan yang aku terima. Bukan karena orang tuaku miskin tapi karna itulah pendidikan yang mereka berikan untuk anak-anaknya agar tahan banting. Sedangkan sepertinya hal ini tidak berlaku di keluarga dia.
Dan masih ada lagi hal-hal berbeda lainnya seperti aku lebih suka sendiri dan main seperlunya, sedangkan dia tiap hari main, entah libur atau enggak dia gak pernah absen main dan jalan-jalan. Awalnya aku berfikir tidak mungkin aku menjalani hubungan ini dengan begitu banyak perbedaan. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi dirinya dan secara perlahan aku dorong dia untuk menjadi diriku.

Tapi inilah hasil yang aku dapat, aku menjadi semakin jauh dari diriku dan rasanya seperti mau mati, dan setiap aku ngobrol dengan dia selalu berakhir panas karna sepertinya kita saling menuntut. Aku dihadapkan pada dua pilihan, kehilangan dia atau kehilangan diriku sendiri.

Berhari-hari aku seperti zombi yang berkeliaran di kota Jakarta. Kemanapun aku melangkah aku seperti orang yang tidak punya kesadaran karena melamun merenungkan apa ya solusi yang bisa aku lakukan.


Akhirnya aku menemukan suatu solusi yang win win, aku masih bisa mendapatkan diriku maupun dia. Aku memutuskan untuk mencintai dia seperti ketika pertama kali aku jatuh cinta padanya, aku gak peduli apapun yang dia lakukan aku mencintainya, aku sanjung dia, aku ingin menjadikannya putri dalam kerajaanku, aku ingin membuat hatinya jatuh kepadaku. Dengan begitu dia akan lebih mudah untuk menerima diriku apa adanya dan aku jadi semakin sayang sama dia tanpa syarat.

Indahnya kehidupan semakin terasa ketika bisa saling melengkapi dalam perbedaan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar