Kembali ke laptop(kata tukul). Pasti ini dari dia, pelan-pelan aku
ambil hp dengan tangan gemetar aku buka hp dan ternyata meskipun dia menolak,
dia bilang begini “Makasih ya buat perasaanya tapi kita temenan dulu aja”, plus
dikasih emoticon smiley wajah malu kemerahan. “Terimakasih ya Allah, ternyata ini tidak seburuk yang aku bayangkan”. Sehingga
meskipun malam itu aku gak jadian dengan dia, tapi kita
ngobrol panjang lebar sampe tengah malam.
Aahh betapa lega dan
senangnya aku, karna pada malam itu
pertama kalinya aku menyampaikan perasaan pada orang yang aku sukai dan pertama
kalinya aku bisa ngobrol asik dengan orang yang sungguh-sungguh aku sukai.
Malam itu perasaan ku bagaikan terbang dengan private jet diatas awan. Akhirnya aku bisa melanjutkan tidur
dengan nyenyak.
Esok harinya, seperti
biasa aku datang ke kelas lebih awal. Beberapa
saat kemudian dia datang, ketika dia
masuk
kelas dia memberikan senyuman pertamanya, yang aku balas dengan senyuman juga. setelah itu dia duduk
tepat di depanku. Aku senang sekaligus
jantungan, karna setelah ini aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.
Aku tidak tahu bagaimana cara menghibur atau menyenangkan
dia, karna selama masa hidupku ini aku habiskan waktu untuk ibadah, bekerja dan
belajar. Aku dibesarkan dalam kondisi yang begitu sulit dan rumit, tidak ada
kesempatan bagiku untuk main atau senang-senang. Aku tahu dia suka film, musik,
bola, dan makan semua itu adalah hal yang sama sekali diluar kepala ku.
Sedangkan makanan otakku sehari-hari adalah bisnis, algoritma, pasar, ekonomi,
keuangan dll.
Cuma satu yang aku tau, pada saat itu nilai ujian try outnya selalu
kurang. Nilainya tidak pernah cukup untuk lolos ke jurusan yang dia inginkan.
Sedangkan aku punya trik cara belajar yang efektif, yang sudah aku ajarkan ke
salah satu temanku dan hasilnya cukup baik.
Setelah itu aku hanya menjalin komunikasi melalui
whatsapp dan tidak ada teman ku yang tau kecuali hanya beberapa orang. Ketika
di kelas atau bertemu di manapun kita bagaikan orang asing yang belum saling
kenal. Memang dia bilang dia ingin jadi teman dulu dan belum ingin ketemuan berdua kecuali
setelah SBMPTN. Sehingga sering kita bertengkar karena aku cemburu, atau karena
aku tolol, tapi kemudian rukun lagi, bertengkar, rukun lagi begitu seterusnya.
Sampai akhirnya mencapai puncak kesabaran ku.
Saat itu aku sedang mengerjakan proyek java pertamaku. Sebelumnya aku
menggunakan microsoft office accces. Karna ini proyek pertama, sehingga aku
butuh konsentrasi penuh untuk memahami algoritma-algoritma rumit yang masih
belum familiar di kepala ku. Disaat panas-panasnya kepala ini hp ku berbunyi,
ternyata itu dari grup wa kelas GO ku. Setelah aku buka grup, ternyata Rifda
ngobrol akrab sama teman ku yang namanya Baim.
Memang ketika kita chating berdua bisa akrab, tapi ketika di
grup sepertinya dia menahan diri. Sepertinya dia gengsi kalau teman-teman tau
kalau dia dekat dengan aku. Bahkan sudah lama twitter ku tidak di folback.
Seketika pikiranku kosong, dan seakan tubuhku terlempar ke dalam suatu ruangan
gelap, sempit dan terisolasi. Aku merasa harga diriku jatuh. Aku
merasa sudah terlalu jauh aku memeprcayakan masa depanku pada orang yang hanya
memberi harapan tapi palsu. Pura-pura peduli, pura-pura curhat tapi tidak
pernah menginginkan aku sama sekali.
Part 5
Part 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar