Kamis, 27 November 2014

Karena Kamulah Satu-satunya Part 4

Kembali ke laptop(kata tukul). Pasti ini dari dia, pelan-pelan aku ambil hp dengan tangan gemetar aku buka hp dan ternyata meskipun dia menolak, dia bilang begini “Makasih ya buat perasaanya tapi kita temenan dulu aja”, plus dikasih emoticon smiley wajah malu kemerahan. “Terimakasih ya Allah, ternyata ini tidak seburuk yang aku bayangkan”. Sehingga meskipun malam itu aku gak jadian dengan dia, tapi kita ngobrol panjang lebar sampe tengah malam.

Aahh betapa lega dan senangnya aku, karna pada malam itu pertama kalinya aku menyampaikan perasaan pada orang yang aku sukai dan pertama kalinya aku bisa ngobrol asik dengan orang yang sungguh-sungguh aku sukai. Malam itu perasaan ku bagaikan terbang dengan private jet diatas awan. Akhirnya aku bisa melanjutkan tidur dengan nyenyak.

Esok harinya, seperti biasa aku datang ke kelas lebih awal. Beberapa saat kemudian dia datang, ketika dia masuk kelas dia memberikan senyuman pertamanya, yang aku balas dengan senyuman juga. setelah itu dia duduk tepat di depanku. Aku senang sekaligus jantungan, karna setelah ini aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.

Aku tidak tahu bagaimana cara menghibur atau menyenangkan dia, karna selama masa hidupku ini aku habiskan waktu untuk ibadah, bekerja dan belajar. Aku dibesarkan dalam kondisi yang begitu sulit dan rumit, tidak ada kesempatan bagiku untuk main atau senang-senang. Aku tahu dia suka film, musik, bola, dan makan semua itu adalah hal yang sama sekali diluar kepala ku. Sedangkan makanan otakku sehari-hari adalah bisnis, algoritma, pasar, ekonomi, keuangan dll.

Cuma satu yang aku tau, pada saat itu nilai ujian try outnya selalu kurang. Nilainya tidak pernah cukup untuk lolos ke jurusan yang dia inginkan. Sedangkan aku punya trik cara belajar yang efektif, yang sudah aku ajarkan ke salah satu temanku dan hasilnya cukup baik.

Setelah itu aku hanya menjalin komunikasi melalui whatsapp dan tidak ada teman ku yang tau kecuali hanya beberapa orang. Ketika di kelas atau bertemu di manapun kita bagaikan orang asing yang belum saling kenal. Memang dia bilang dia ingin jadi teman dulu dan belum ingin ketemuan berdua kecuali setelah SBMPTN. Sehingga sering kita bertengkar karena aku cemburu, atau karena aku tolol, tapi kemudian rukun lagi, bertengkar, rukun lagi begitu seterusnya.

Sampai akhirnya mencapai puncak kesabaran ku. Saat itu aku sedang mengerjakan proyek java pertamaku. Sebelumnya aku menggunakan microsoft office accces. Karna ini proyek pertama, sehingga aku butuh konsentrasi penuh untuk memahami algoritma-algoritma rumit yang masih belum familiar di kepala ku. Disaat panas-panasnya kepala ini hp ku berbunyi, ternyata itu dari grup wa kelas GO ku. Setelah aku buka grup, ternyata Rifda ngobrol akrab sama teman ku yang namanya Baim.


Memang ketika kita chating berdua bisa akrab, tapi ketika di grup sepertinya dia menahan diri. Sepertinya dia gengsi kalau teman-teman tau kalau dia dekat dengan aku. Bahkan sudah lama twitter ku tidak di folback. Seketika pikiranku kosong, dan seakan tubuhku terlempar ke dalam suatu ruangan gelap, sempit dan terisolasi. Aku merasa harga diriku jatuh. Aku merasa sudah terlalu jauh aku memeprcayakan masa depanku pada orang yang hanya memberi harapan tapi palsu. Pura-pura peduli, pura-pura curhat tapi tidak pernah menginginkan aku sama sekali.

Part 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar