Kamis, 27 November 2014

Karena Kamulah Satu-satunya Part 5

Tanpa keraguan aku keluar dari grup kelas malam itu juga dan aku putuskan untuk tidak kontak dengan Rifda lagi atupun stalking. Aku merasa memang aku ini korban php. Tidak lama kemudian temanku baim yang merasa bersalah mengontakku,
Baim: Dad, sory ya gw gak bermaksud gitu kok.
Aku:  Maksudnya?(pura-pura gak tau)
Baim: Itu yang di grup tadi.
Aku: Oh, ga papa kok santai aja.
Baim: Tapi kenapa keluar dari grup?
Aku: Oh, ga papa cuma biar bisa fokus aja ngerjain proyek software gw.
Baim: Kenapa harus keluar dari grup kn bisa di silent?
Aku: Tetep ga bisa im, gw harus keluar biar bisa fokus.

Tapi setelah itu aku merasa hubungan pertemanan ku jadi agak renggang. Cinta memang bisa membuat aku dekat dengan orang-orang tapi jika salah kelola bisa membuat aku jauh dari siapapun.

Beberapa minggu setelah aku marah besar aku penasaran dengan apa yang terjadi pada Rifda. Ternyata dia meretweet kata kata ini “Ini hati, bukan terminal yang bisa seenaknya datang lalu pergi”. Seketika aku merasa sangat bersalah aku tidak tahu kalau tindakan ku ini akan menyakiti dia. meskipun aku masih  menyimpan kekecewaan dan tanda tanya besar, mau dibawa kemana hubungan ini?. Tapi aku ingin minta maaf, karna seandainya harus ada salah satu yang terluka dalam hubungan ini maka sebaiknya itu adalah aku.

Setelah itu aku berencana untuk memberinya bunga. Aku tunggu di dekat rumahnya di daerah Antapani sampai sekitar jam 9. Tujuannya agar tidak ketahuan oleh orang tuanya, karna dia belum diperbolehkan juga pacaran oleh orang tuanya. Setelah lewat jam yang ditentukan aku menuju depan rumahnya. Singkat cerita, aku mengalami kegagalan. Dan akhirnya aku kembali pulang dengan perasaan super kecewa.

Tapi untungnya rifda bisa meredam kekecewaanku. Malam itu aku bisa merasakan kalau dia merasa bersalah dan dia begitu pedulinya menyuruh aku untuk segera pulang dan melanjutkan obrolan setelah aku sampai rumah. Karena pada saat itu sudah hampir jam 11 malam dan hawa udara bandung ternyata begitu dinginnya pada malam itu.

Setelah tiba di rumah dan menghangatkan diri, kita ngobrol sebentar dan dia memberi solusi dengan ngajak nonton bareng besok. Itu juga sesuai janjinya sekitar dua bulan yang lalu. Esok harinya akhirnya kita bertemu dan nonton bareng, tapi tidak banyak percakapan diantara kami. Aku merasa pertemuan hari ini gak efektif sama sekali, aku hampir putus asa saat itu. Tapi kemudian aku punya ide untuk memberikan bunga mawar yang aku beli kemarin saat nanti pulang.

Sore hari menjelang maghrib aku turunkan dia di depan jalan masuk ke komplek rumahnya. Sebelum aku pulang aku buka tas kecilku kemudian aku berikan bunga ke dia, dia bilang makasih. Setelah itu aku segera pulang.


Beberapa hari setelah pertemuan itu dia kirim whatsapp tanya kenapa aku gak mau masuk unpad padahal hasil pengumuman SBMPTN aku di terima, kemudian aku jawab dan aku jelaskan sebisa mungkin tapi dia jadi semakin kecewa. Keesokan harinya aku sapa dia lewat whatsapp, tapi tak ada balasan apapun dari dia, aku tunggu seharian pun juga tidak ada balasan

Part 6

1 komentar: