Minggu, 29 Juni 2014

Berharap Itu Hanya Pada Allah dan Diri Sendiri Bukan Kepada Sesama Manusia

Hari ini aku rela menunggu lama bahkan mengcancel beberapa jadwal kegiatan ku hari ini. Alasannya adalah aku mau nunggu orang tuaku yang katanya mau ke depo bangunan (swalayan bahan bangunan), karena aku mau sekalian latihan nyetir biar lebih lancar. Aku kepingin banget bisa nyetir mobil sendiri, kursus sudah tapi masih belum lancar.

Aku kira sebentar lagi mau berangkat setelah pekerjaan orang tuaku membagi-bagi barang di gudang selesai, akhirnya sambil nungguin aku ikut bantu-bantu. Ternyata selesainya satu jam lebih sampai akhirnya masuk waktu sholat dzuhur sehingga kami mendahulukan sholat dulu. Setelah sekitar lima belas menit an ternyata ayahku  mau nyuci mobilnya dulu karena sudah hampir sebulanan tidak di cuci, aku nunggu lagi sambil nge youtube video-video nya Dahlan Iskan daripada nganggur mending cari ilmu dari sang master managemen yang berhasil merestrukturisasi birokrasi di BUMN. Sekitar hampir setengah jam kemudian ayahku datang, aku kira mobilnya sudah di cuci ternyata belum karena semua tempat cuci mobil penuh antri nya kelamaan. Aku kira mau langsung berangkat ternyata tidak ayahku ngantuk dia mau tidur dulu. Beuhhhhhhh! dalam hatiku, aku sudah bantuin dan membatalkan beberapa tugas hanya  untuk menunggu harapan kosong?!?!?!

Yang paling menjengkelkan adalah aku harus memulai dari awal pekerjaan yang aku tinggalkan karena ini yaitu pekerjaan pemrograman 'Coding'. Aku haru mengurutkan lagi susunan-susunan logika yang tadi sudah aku tangkap maksud dan strukturnya. Akhirnya aku harus melanjutkan pekerjaaku ini dengan perasaan kesal dan malas luar biasa.

Akhirnya aku tidak jadi melanjutkan pekerjaanku ini dan aku putuskan untuk tidur-tiduran sambil dengerin musik biar menhilangkan rasa malas dan jengkel ini. Sambil tidur-tiduran dan terkantuk-kantuk entah darimana datannya tiba-tiba aku teringat peristiwa yang dialami oleh pak Dahlan Iskan beberapa waktu lalu. Pak Dahlan sebagai peserta konvensi capres Partai Demokrat berjuang semampu dia dan dibantu juga oleh para relawan Demi Indonesia untuk memenangkan pencapresannya di antara kesibukannya sebagai menteri BUMN, dan pak Dahlan tidak pernah menggunakan jam kerjanya untuk ikut konvensi. Ternyata pak Dahlan keluar sebagai kandidat dengan nilai tertinggi tapi sayangnya dia tidak jadi dijadikan sebagai calon, justru orang lain yang aku lupa namanya. Yang aneh dari pak Dahlan ini adalah kurang dari satu hari setelah pengumuman itu pak Dahlan di wawancarai sebuah stasiun tv dan dia seperti tidak menunjukkan perubahan raut wajah kecewa, kesal, atau apapun dia masih bisa senyum dengan senyum khasnya ala pak Dahlan dan guyonannya dia.

Aku segera bangkit dari berbaring dan duduk kemudian merenung, oia ya, bagaimana pak Dahlan bisa secepat itu mengatasi harapan kosong seperti itu, bukan main pasti rasa sakitnya? Tidak lama kemudian aku ingat kata-kata beliau kurang lebih seperti ini "Ah, dalam politik hal yang seperti ini memang sudah biasa terjadi. Hari ini orang janji besok di ingkari itu sudah biasa, saya sudah tau itu jadi saya terbiasa. Tidak saya tidak kecewa, yah sedikitlah tapi saya sudah tau kok. Kalau saya berharap yang tidak rasional ibarat sumur mencari timba bukan sebaliknya."

Aku jadi kembali bersemangat dan sekalian aku juga kembali bersemangat dari sesuatu yang beberapa hari ini sudah sangat menggaggu ku. Aku baru saja memutuskan untuk tidak lagi menjalin komunikasi dengan seseorang yang aku tembak, dianya gak nolak tapi juga gak mau aku ajakin belajar bareng atau sekedar ketemuan sedangkan di wa kita ngechat seru, biasanya seminggu sekali. Setelah kira-kira tiga bulan aku berteman dengan dia dan setelah SBMPTN aku tidak ingin merasa lebih tersakiti lagi atas harapan kosong yang sudah dia berikan karena semua bantuan yang aku tawarkan ke dia selalu dia tolak.

Entahlah tapi setidaknya sekarang aku harus menyadari dan berpikir rasional seperti pak Dahlan. Bahwa tidak semua harapan itu harus terpenuhi. Makannya aku hanya akan berharap pada Allah, karena andaikata harapanku tidak terkabul Allah akan mencatat satu pahala atas doa dan usaha yang telah aku lakukan. Kemudian aku hanya akan berharap pada diriku sendiri, karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain sepenuhnya tetapi kita punya kendali sangat besar terhadap diri kita sendiri. Dengan berharap pada diri sendiri kita akan tergerak untuk melakukan usaha dan kerja yang hanya dengan usaha itulah impian kita akan tercapai, dan apabila kita gagal kita tidak akan menunjuk orang lain sebagai penyebab kesalahan karena kita tidak mengharapkan mereka untuk menyelesaikan pekerjaan kita dan memenuhi keinginan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar