Sudah lama tidak posting artikel baru di blog ini. Awal buat blog ini pas semangat-semangatnya nulis, sampai akhirnya jadi beberapa artikel, yang tidak lebih dari sepuluh. Sebagian berhasil di publish dan sebagian lagi hanya jadi draft. Karena ternyata menulis itu agak sulit, sering ketika sedang semangatnya nulis eh ditengah jalan kehilangan ide. Entah kenapa semua ide yang sebelum dituangkan dalam tuisan bermunculan begitu banyak tiba-tiba lupa semua ketika sedang mengetik. Selain itu ada kecenderungan untuk malas, karena blog ini tidak ada yang baca kecuali aku sendiri dan beberapa orang nyasar yang mungkin setelah membuka blog ini dari mesin pencari langsung di klik close tab, karena ternyata apa yang sebenarnya dia cari tidak ada di blog ini. Kendala selanjutnya adalah kurang pede ketika mau mempublikasikan, mungkin karena mental block. Maklum, dulu waktu kecil aku ini salah satu korban bully sejak dari taman kanak-kanak sampai SD kelas tiga. Tapi aku tidak mau menggunakan masalalu sebagai alasan untuk tetap berada dalam ketidak mampuan.
Akhirnya aku putuskan untuk menulis apa adanya sajalah seperti obrolan di warung kopi, tidak ada sekenario, tidak ada topik apa yang mau di bahas, mengalir begitu saja, ngalor ngidul, asalnya bahas masalah makanan ngluwer-ngluwer jadi bahas masalah politik.
Nah mengingat masalah bully ini aku jadi teringat kisah sejarhaku, dimana aku mengalami beberapa tahap dalam kehidupan ini, tepatnya ada 2 tahap. Jadi kenapa aku membuat tahapan ini? Karena 2 peristiwa ini adalah peristiwa dimana aku melakukan break through, yang mengubah hidupku untuk selamanya sekaligus menandakan bahwa aku telah keluar dari belenggu kelemahan dan kekurangan yang disebabkan oleh perlakuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dimasa kecilku.
Tahapan pertama terjadi ketika aku kelas enam SD. Tahapan ini adalah tahapan pengetahuan. Sejak kelas dua SD aku sudah berkeinginan untuk bisa berprestasi alias dapet ranking. Karena aku menginginkan sekali di puji seperti anak-anak lain yang pintar. Aku sering iri dengan teman-teman ku yang pintar, ketika ibu-ibu sedang berkumpul mereka membicarakan teman-temaku dan memuji. Sejak kecil, rasanya aku tidak pernah dapat pujian apapun yang ada hanya celaan, aku kurus lah, bodo lah, miskin, aneh dan entah kenapa ada 2 temen cewek waktu SD memberi cap 'nakal' padaku. Yang benar saja, aku lemah seperti ini bisa berbuat apa terhadap orang lain? Karena itu aku sangat merindukan akan pujian, karena aku sudah terlalu kenyang dengan celaan yang aku terima, setidaknya kalau aku pintar aku dapat pujian dan pengakuan sedikitlah.
Tapi keinginan tinggalah keinginan, setiap kenaikan kelas aku selalu ingin berubah di tahun ajaran baru dan kelas baru, aku ingin bisa rajin belajar. Tapi ternyata susah untuk mengubah kebiasaan malas dan melepaskan label celaan yang sudah melekat menjadi kepribadian. Meskipun tahun demi tahun ada peningkatan, tapi jumlahnya sangat sedikit. Hingga tibalah kenaikan kelas lima ke enam. Pada hari pertama aku masuk kelas aku berikrar dalam diri bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk berubah, dan sejak hari itu juga aku mendengarkan sekali apa yang guru ajarkan tidak ingin aku lewatkan satupun. Jika ada kesempatan aku bertanya ke depan menanyakan materi atau soal yang aku belum paham atau yakin, cukup koboi, karena tidak dilakukan oleh siwa lain dan aku tidak peduli dengan siapa aku sebelumnya berusaha mendapatkan perhatian guru, selalu aku yang bertanya, hal sepelepun juga aku tanyakan.
Alhamdulillah sejak saat itu aku selalu berprestasi di sekolah, bahkan ada salah satu temanku yang bercanda bertanya "Miqdad, kamu ke dukun mana sih, kok bisa pinter?". Selain itu aku juga bisa memecahkan soal matematika yang sulit, yang belum diajarkan rumusnya sebelunya, aku bisa memecahkannya bahkan sebelum temanku yang paling pinter sekalipun memecahkannya. Tahun demi tahun aku lewati dengan menorehkan prestasi hingga akhirnya aku mendapatkan beasiswa di MAN(setara SMA) Insan Cendekia.
Nah di sini lah tahapan ke dua di mulai. Ketika aku masih kecil aku dicap orang yang salah, selalu salah, entah salah ku dimana hingga semua orang seakan-akan membenciku. Belum lagi dirumah kalau aku nakal sedikit saja aku dimarahi luarbiasa oleh ayahku, ketika aku tidak bisa mengerjakan soal atau menghafal ketika bersama ibuku aku selalu dimarahi juga. Hingga akhirnya aku berkembang menjadi anak yang kuper, aku tidak berani mengambil resiko dalam pergaulan dan pertemanan, tidak mau bergaul dengan orang-orang baru kecuali dia baik karena aku takut dinakalin lagi. Sehingga ketika aku sudah cukup besar aku sulit untuk bergaul dan memulai bisnis karena masalah mental block.
Di Insan Cendekia ini setiap hari sabtu ada semacam eskul wajib, namanya enterpreuneurship. Pengajarnya alumni Insan Cendekia yang berhasi menjadi salah satu pemenang ajang lomba wirausaha mandiri yang diadakan setiap tahun oleh Bank Mandiri hingga sekarang.
Sejak kelas empat sd aku sudah diajari menabung oleh ibuku, bahkan kalau mau beli mainan atau apapun yang aku iniginkan aku harus beli dari uang mingguan yang aku terima, jika aku meminta lebih dari itu ibuku tidak akan kasih. Karena aku merasakan betul ketika aku ingin membeli hp seperti teman-temanku saja aku harus menabung sangat lama dan tidak jajan selama berbulan bulan. Akhirnya otakku selalu dipaksa untuk berpikir bagaimana cara mengahasilkan uang lebih cepat dari mengandalkan uang mingguan. Pernah, pada saat aku smp aku ditawari ayahku untuk membelikan uang tabunganku dengan domba dan dipelihara orang lain, nanti keuntungannya dibagi dua. Setelah satu tahun hasilnya lumayan buat tambah-tambah tapi tidak dilanjutkan karena yang melihara tidak mau lagi. Sejak saat itu aku tidak melakukan usaha apapun untuk menghasilkan uang selain mengandalkan uang mingguan. Sebenarnya lebih karena aku sulit menemukan peluang dan malu.
Nah itu sebabnya di ekskul wajib ini aku selalu antusias karena aku ingin sekali memulai usaha tapi tidak juga segera mulai. Suatu ketika, kak Salman, mentor ku ini memberi tugas, tugas yang aku pikir cukup gila. Dia bilang "Dulu hidup saya berubah sejak saya membaca buku yang ada di perpustakaan sekolah ini, judulnya Rich Dad, Poor Dad, karangan Robert T Kiyosaki, nah tugas kalian adalah mencari buku itu kemudian minggu depan ceritakan kepada saya mengenai isinya". Gilanya adalah, buku itu sudah pasti berusia tua, dan apakah keberadaannya masih ada atau tidak entahlah, belumlagi kalau adapun jumlahnya cuma satu sedangkan jumlah murid yang diberi tugas ada 120?!
Tapi tetap aku akan uji keberuntunganku, setelah eskul selesai ada sholat dzuhur berjamaah kemudian makan siang. Ketika teman-temanku yang lain pergi ke kantin aku pergi ke perpustakaan, mumpung sepi. Tidak sia-sia ternyata aku menemukan buku yang dimaksud itu, dan setelah itu teman temanku antri pinjem di belakangku.
Setelah membaca buku itu mentalku berubah, sebelumnya menjadi pengusaha adalah tujuan sampingan ku, sebagai iseng-iseng berhadiah. Setelah membaca buku ini menjadi pengusaha adalah tujuan utamaku. Tapi keinginan yang kuat saja tidak cukup, rasa takut, minder, dan malu yang tertanam sejak kecil tidak bisa begitu saja hilang dengan keinginan besar untuk menjadi pengusaha. Hingga tiga tahun kemudian aku masih jalan di tempat, seperti saat SD kelas dua, keinginan hanya tinggal keinginan tidak ada daya dan alasan yang lebih kuat lagi untuk bisa mengalahkan kelemahan diri.
Sampai akhir tahun ke tiga secara kebetulan aku bertemu dengan seorang wanita di bimbel kelas alumni untuk persiapan masuk perguruan tinggi, dan itu pertama kalinya aku memberanikan diri untuk menmbak seseorang seorang wanita. Meskipun baru berani setelah beberapa bulan menyimpan perasaan padanya.
Awalnya aku hanya sering curi2 pandang, dan aku selalu cari tempat duduk tepat di belakangnya. Kemudian aku iseng liat-liat twitternya, cari tau tentang dia, sampai lama-lama aku semakin suka dan punya keinginan besar untuk setidaknya dia tau apa yang aku rasakan ini. Tapi aku takut, kalau ternyata dia benar2 menerima aku, masa aku masih seperti ini? Masih lemah, takut, ragu, minder, dan suka mengeluh. Hingga akhirnya aku putuskan untuk menghilankan semua kebobrokan itu, aku daftar gym, beli barbel, latihan emosi, rajin shalat lagi setelah beberapa tahun aku meninggalkan kewajiba utama ini. Dan setiap aku kembali mengulang kebiasaan burukku aku selalu bayangkan bagaimana jika dia berada di sampingku saat ini menyaksikan aku. Aku mendapatkan alasan yang sangat kuat untuk berubah yaitu untuk dia, karena dengan aku menyukainya secara otomatis sebagai laki-laki aku punya tanggung jawab untuk menjaganya. Tidak mungkin kan saat ada bahaya atau masalah aku malah bersembunyi di belakangnya atau malah lari meinggalkan dia, aku harus ada di depannya dan berani ambil resiko. Tapi ketika menyangkut masalah lain aku harus mengalah dan mendahulukan dia, bukannya egois dan itungan.
Nah setelah aku sampaikan isi hatiku ke dia, dia tidak menerima tapi juga tidak menolak. Sekarang aku masih sering ngobrol dengan dia melalui whatsapp tapi kalau ketemu, kita seperti orang yang tidak saling kenal, karena dia memang meminta agar hubungan ini tidak diumbar ke teman-teman yang lain. Meskipun aku tidak pernah bisa bertemu dengan dia, setidaknya aku sudah melakukan breaktrhough dan tidak begitu terkendala dengan masalah sosial, dan nyali. Sekarang tinggal waktunya untuk menorehkan prestasi yang lebih besar lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar