Tanpa keraguan aku keluar dari grup kelas malam itu
juga dan aku putuskan untuk
tidak kontak dengan Rifda lagi atupun stalking. Aku
merasa memang aku ini korban php. Tidak lama kemudian temanku baim yang merasa
bersalah mengontakku,
Baim: Dad, sory ya gw gak bermaksud gitu kok.
Aku:
Maksudnya?(pura-pura gak tau)
Baim: Itu yang di grup tadi.
Aku: Oh, ga papa kok santai aja.
Baim: Tapi kenapa keluar dari grup?
Aku: Oh, ga papa cuma biar bisa fokus aja ngerjain
proyek software gw.
Baim: Kenapa harus keluar dari grup kn bisa di silent?
Aku: Tetep ga bisa im, gw harus keluar biar bisa
fokus.
Tapi setelah itu aku merasa hubungan pertemanan ku
jadi agak renggang. Cinta memang bisa membuat aku dekat dengan orang-orang tapi
jika salah kelola bisa membuat aku jauh dari siapapun.
Beberapa minggu setelah aku marah besar aku penasaran
dengan apa yang terjadi pada Rifda. Ternyata dia meretweet kata kata ini “Ini
hati, bukan terminal yang bisa seenaknya datang lalu pergi”. Seketika aku
merasa sangat bersalah aku tidak tahu kalau tindakan ku ini akan menyakiti dia.
meskipun aku masih menyimpan kekecewaan
dan tanda tanya besar, mau dibawa kemana hubungan ini?. Tapi aku ingin minta
maaf, karna seandainya harus ada salah satu yang terluka dalam hubungan ini
maka sebaiknya itu adalah aku.
Setelah itu aku berencana untuk memberinya bunga. Aku
tunggu di dekat rumahnya di daerah Antapani sampai sekitar jam 9. Tujuannya
agar tidak ketahuan oleh orang tuanya, karna dia belum diperbolehkan juga
pacaran oleh orang tuanya. Setelah lewat jam yang ditentukan aku menuju depan
rumahnya. Singkat cerita, aku mengalami kegagalan. Dan akhirnya aku kembali
pulang dengan perasaan super kecewa.
Tapi untungnya rifda bisa meredam kekecewaanku. Malam
itu aku bisa merasakan kalau dia merasa bersalah dan dia begitu pedulinya
menyuruh aku untuk segera pulang dan melanjutkan obrolan setelah aku sampai
rumah. Karena pada saat itu sudah hampir jam 11 malam dan hawa udara bandung
ternyata begitu dinginnya pada malam itu.
Setelah tiba di rumah dan menghangatkan diri, kita
ngobrol sebentar dan dia memberi solusi dengan ngajak nonton bareng besok. Itu
juga sesuai janjinya sekitar dua bulan yang lalu. Esok harinya akhirnya kita
bertemu dan nonton bareng, tapi tidak banyak percakapan diantara kami. Aku
merasa pertemuan hari ini gak efektif sama sekali, aku hampir putus asa saat
itu. Tapi kemudian aku punya ide untuk memberikan bunga mawar yang aku beli
kemarin saat nanti pulang.
Sore hari menjelang maghrib aku turunkan dia di depan
jalan masuk ke komplek rumahnya. Sebelum aku pulang aku buka tas kecilku
kemudian aku berikan bunga ke dia, dia bilang makasih. Setelah itu aku segera
pulang.
Beberapa hari setelah
pertemuan itu dia kirim whatsapp tanya kenapa aku gak mau masuk unpad padahal
hasil pengumuman SBMPTN aku di terima, kemudian aku jawab dan aku jelaskan
sebisa mungkin tapi dia jadi semakin kecewa. Keesokan harinya aku sapa dia
lewat whatsapp, tapi tak ada balasan apapun dari dia, aku tunggu seharian pun
juga tidak ada balasan.
Part 6
Part 6
http://apapunitu12.blogspot.com/
BalasHapus